Okay, malam ini nulis via hape. Sebelumnya ga ada ide buat nulis apa di sini. Ya berhubung di kos sendirian… Jadi akhirnya pengen coret-coret lagi. 

Mungkin di luar sana orang-orang pada hectic dg yang namanya tahun baru. Atau ada juga yang cuma stay di rumah nonton keriuhan di luar lewat layar kotak. Bahkan ada juga yang ‘ndekem’ aja di kotak biru kecil di lantai dua. Ha-ha-ha…. Mau dibilang jones juga ga ngrasa si. Whatever lah….

Tadi di blognya temen lpdp “gelariksa”, dia udah mbahas yang namanya resolusi tahun baru. Ga usah nulis resolusi di tahun ini. Yang penting nikmati aja, kerjain aja semua, trial and error. Yap, terkadang aku juga gitu. Udah nulis beberapa poin pencapaian di tahun depan terkadang ga kesampaian. Malah jd seakan itu tulisan terpampang dan ga jadi realita. Jadi sebel ujung-ujungnya. 

Tapi di sisi lain, tulisan itu bisa jadi kenangan yang lucu buat aku pribadi. Kadang suka tuh buka-buka catatan pribadi dari tahun-tahun kemarin. Suka geli aja, ternyata di tahun itu aku udah nulisin macem-macem ya… Kadang ngekek sendiri. Sama liat coretan-coretan gambar sendiri ditambah caption pula. Makin tahu kayak apa diriku di tahun-tahun yg lalu. 

Kayak nulis diary atau curhatan di blog kek gini. Mungkin gak ada yang mau baca juga si…kecuali si empunya. Ga tau juga apa temenku yang ngefollow ikutan baca juga apa enggak. (Makasih ya yang mau baca2) 😂. Setidaknya ini caraku dan mungkin juga untuk sebagian teman-teman yang sama kesukaannya nulis diary via blog, bisa bikin seneng aja. Lega rasanya kalau udah nulis. Ga cape – cape juga nyimpen ide berhari-hari. hehe… nulis kaya gini bisa ngubah mood juga, yang tadinya cape sama rutinitas bisa loncat-loncat lagi kayak anak kecil….Haha..

Back to new year 2017. Menurutku tahun baru gak akan punya suasana baru, jika kita ngelakuin beberapa hal yang masih sama salahnya dengan tahun lalu. Ga ada motivasi baru, ga punya ruh yang lebih membara, itu akan bikin tahunmu terasa lebih mati. 

Tahun baru, ulang tahun, seperti kesedihan yang tersembunyikan. Ucapan selamat dan euforia hanya pada pandangan mata semata, lalu pas balik di rumah, menilik ke diri sendiri akan ada banyak kesedihan yang muncul. Gak punya bayangan apa yang akan dilakukan satu jam bahkan sampe satu tahun ke depan. Itu parah. Hanya tahu bahwa detik tadi tak dapat terulang sampai kapanpun. Pukul 23.59 tanggal 31 Desember 2016 tak akan bisa terulang sampai kapanpun. Keadaan tubuh kita di jam itu tak akan sama dengan satu menit kemudian. Gak ada ada kesamaan. Dan semakin banyak waktu yang terbuang dengan kita ikut dalam euforia tahunan yang gak bikin kita sukses di masa depan. 

Bukan aku mengutuk mereka yang sedang ikutan merayakan. Tapi ini opini untuk diriku sendiri. 

Aku yang semakin menua, terkadang merasa di satu waktu punya energi tinggi untuk melakukan ini dan itu. Like today, i wanna be a writer, i wanna be a designer, i wanna be physicist. Oh no… Seakan semua ide keluar, tapi terbenturkan dg kurangnya waktu dalam sehari. Melihat tanggal sangat cepat berganti rasanya belum melakukan apa-apa di tahun ini. Bukan menghilangkan semua pencapaian di 2016, tapi setidaknya masih merasa pencapaian itu masih biasa-biasa saja. Nothing is special. 

Daan… Mungkin ini dirasakan karena kehilangan ruh… Apa-apa menjadi hambar, tak bermakna. Lupa yang namanya cape. Lupa yang namanya menikmati proses. Ruhnya menguap seperti angin. Sudah tak terasa sepoinya. Nauzubillah… Smg Allah masih ngasih kesemangatan untuk bisa menjemput ruh yang akan menghidupkan jiwa kita. Aamiin…

Tahun baru Hijriyah, yang sudah terlewat. 

Tahun baru Masehi, yang sedang berlangsung.

Ulang tahun kelahiran, yang tak ku hiraukan.

Semuanya terlewat saja. Silakan lewat.. aku pun masih biasa

Masih bernama Inung…

Inung tetap Inung…

Yang masih suka nulis-nulis, sibuk ngadepin laptop, pengin loncat-loncat, dan banyak hal lain yang jadi impiannya. 

Perubahan waktu dari detik ke detik hingga berganti dekade, semoga bisa menjadikan diri ini semakin kece, lebih bersih hatinya, lebih cling pemikirannya, dan lebih santun perilakunya.

Bisa semakin banyak bersedekah, menolong dan memotivasi orang lain, semakin ikhlas ibadahnya, semakin rapi dalam semua kerjaannya, semakin mampu mencintai orang-orang di dekatnya, dan mampu mengatur tiap detik sesuai haknya masing-masing. 

Waktu akan semakin berjalan, merangkak sampai batas yang diberikan oleh Sang Pencipta. Sehingga diri harus mampu sampai batas umur di dunia melakukan kebaikan-kebaikan, membentuk pribadi yang bermanfaat, melakukan pencapaian-pencapaian yang membuat pahala bisa mengalir jauh. Sampai akhirnya kembali menyatu bersama tanah untuk berpindah ke alam lain, menghadap ke Rabb Yang Maha Kuasa.
Maha Pencipta waktu, Maha Agung yang menjalankan kehidupan dari masa ke masa. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Up ↑

%d bloggers like this: