New Path


Hampir 2 bulan tak menjejak di sini. Sibuk? mungkin bukan kata yang tepat untuk mengungkap alasannya.

Juli dan Agustus, bulan – bulan yang membuatku harus merindu kembali, mencoba menata hati dan pikiran agar lebih jelas dalam menapak kehidupan selanjutnya. Bulan – bulan terakhir di rumah sebelum berangkat ke Jogja Kota Kenangan keduaku setelah Bandung. Menyiapkan semua, baik urusan di rumah dan persiapan pindahan ke Jogja. Menyiapkan hati untuk terus bisa berpasrah sepenuhnya sama Yang Maha Kuasa. Meninggalkan bapak seorang diri di rumah dan melangkah untuk meraih mimpi yang bukan sekedar bunga tidur.

“Bertahanlah hingga ku selesai dan kami bisa menatap senyuman di wajahmu.” Aku takut ketika tiba waktunya dia meninggalkan kami, dengan usia yang semakin menua dan rapuh. Kuminta Ia menguatkannya.selalu, bertahan dengan jasmani dan ruhani yang sehat.

Tiga tahun di rumah setelah pulang dari Semarang memang bukan waktu yang lama. Tahun yang sangat singkat untuk bisa dibilang sekedar berbakti pada orang tua. Belum lagi satu tahun terakhir yang begitu membuat diriku belajar banyak hal dari beliau – beliau. Dan memang bisa dikatakan terlambat untuk tahu hal – hal yang khas pada orang tua, tahu kesukaan dan tidak sukanya, tahu keinginan dan harapannya pada anak – anaknya, bisa dengan mudah ngobrol layaknya teman/ kakak dengan begitu akrabnya. Dan sangat menyakitkan ketika sudah tahu itu semua, tapi tak ada waktu lagi yang bisa kita gunakan bersama mereka.  Penyesalan yang tidak bisa dibayar dengan apapun. Hanya untaian doa yang bisa mengalir dari mulut ini untuk orang tua yang telah meninggalkan kita. Tinggal Bapak dan semoga aku masih bisa berbakti lebih baik pada beliau.

Oke, aku malah jadi meleleh kalo menulis tentang ini. Maaf….

Intinya, buat teman-teman yang masih punya Ortu, ayo mulai lirik pada diri sendiri, “Sudah berbaktikah kita pada orang tua?” Berbuat baik sebaik – baiknya untuk ibu dan bapak itu sangatlah menyenangkan, mungkin dirasa berat ketika melakukan, tapi akan sangat senang ketika sesudahnya, kita bisa melihat wajah mereka tersenyum bahagia saat memandang kita.

Jika ditanya lebih penting mana antara berbakti pada orang tua atau belajar? aku menjawab sama – sama penting. Dengan menjadi anak yang berbakti kita sudah melakukan kewajiban dan perintah Allah pada kita sebagai anak. Dengan belajar, kita bisa lebih memahami ilmu – ilmu baru yang didapat dan memperluas arti berbakti pada orang tua. Melihat dunia baru yang sebenarnya akan membuat kita sadar bahwa orang tua sudah melakukan segalanya supaya kita bisa belajar dan bahkan bisa menjejakkan kaki kita di seluruh titik di bumi untuk menuntut ilmu tentunya.

Dan ingatlah bahwa, harta yang tak pernah hilang adalah anak yang sholeh, jadi kita harus menjadi anak yang sholeh dan sholehah dalam keadaan apapun, baik orang tua masih hidup ataupun sudah meninggal. Doa kita itu penting untuk menyelamatkan orang tua kita di akhirat kelak, dan kalo kita ingin selamat juga diakhirat nanti, kita harus sholeh/ah dan punya anak yang sholeh/ah pula. Jadi semuanya akan beruntun. Tak terhapus atau hilang pahalanya. Aamiin… Smg Allah mengijabah ya.

Ya, itu sekilas tentang orang tua.

Nah, di Agustus ini aku resmi pindahan ke Jogja. Awalnya terdaftar di dua kampus di sini, namun pada akhirnya aku mengambil satu kampus saja, yakni UGM. Kembali ke dunia fisika, yang dulu ketika S1 belum “murni” dan sekarang “dimurnikan” kembali. Alah… ini bahasanya alay ala – ala anak pendidikan kampus melati.

Hmmm… alhamdulillah, hampir sebulan di kampus ini semakin merasakan pergulatan dalam diri. Bukan secara fisik tapi batinnya lebih ngena. Soalnya sebulan rasa seminggu, dengan tugas baca dan tugas lain semakin banyak. Namun aku senang dengan yang aku putuskan saat ini. Aku tak menyesal, karena benar aku akhirnya tertantang untuk bisa belajar dengan sungguh – sungguh. Harus ekstra niat, kayak ngerjain borang saat PK69. Hhehe.

Aku sangat berterima kasih kepada LPDP yang memberikan segalanya, baik beasiswa, pelayanan, siap sedia 24 jam dan lain sebagainya hingga aku bisa makan dan tinggal dengan baik di Jogja, bukan sebagai homeless… hehe.

Di sini sebagai mahasiswa lagi, mendapat pengalaman yang bermakna, bisa bertemu dengan berbagai sosok yang menginspirasi, seperti Pak Warsito yang datang langsung ke lab Fisika Citra, dan dosen – dosen yang super. Oh ya, di sini dipertemukan pula dengan teman dari Madagaskar. Namanya Vasa N. Wastina, yang menjadi teman baik hingga kita kemana – mana bareng.

nb: Untuk foto – foto menyusul ya.,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s