Sejuta Bahagia Bersama Novel


Bahagia *lagi. Ini penulis lagi bahagia tau… hihi… *alay pake banget.

Sejuta bahagia, ups sebenarnya bahagia tak bisa terukur dengan banyaknya. Uncountable words, sesuai ingatan bahasa Inggrisku. Ya… entahlah,,, maap ya Miss or Mam yang baca tulisan ini, mohon kripik pedasnya. Hehe….

Tulisan ini kudedikasikan untuk temanku yang sudah membuatku gila baca novel.  Teman yang beberapa tahun ini menjadi sangat dekat karena buku, perjalanan, dan cerita kehidupan yang sering kita utarakan.

Ya, Novel. Buku bacaan yang awalnya aku hindari. Yang kupikir dari satu sudut pendirianku tentangnya. Aku menghindari baca novel, karena aku paham diriku yang tak terlalu menyukai buku – buku berbau roman. Aku mengenal novel saat SMP, kubeli satu di toko buku saat jalan – jalan bareng keluarga. Itupun karena tugas Bahasa Indonesia di SMP. Selanjutnya tak pernah kusentuh buku – buku sejenis itu di toko buku yang kusambangi. Hanya buku – buku pelajaran, teknologi, atau kerajinan tangan saja yang ingin kukunjungi. Kalaupun baca, karena penasaran dan pake ilmu minjem. Haha….

Novel, aku sempat membencinya. Aku takut kalau terhanyut dalam cerita – ceritanya yang bikin nangis bombay. Suatu kali kupinjem novel dari kakak kos di SMA, wah sehari semalam kuselesaikan dengan mata panda di pagi harinya. Jelas bikin efek ga bagus buat berangkat ke sekolah.

Dan juga, novel memberikan rasa penasaran yang tak kunjung habisnya. Sampai kita benar – benar menyelesaikan lembaran – lembaran cerita itu hingga habis. Mau ada PR, nyuci baju, atau harus ngobrol dengan teman sekamar pasti bisa saja diabaikan. Kekuatan novel ini memang membuat pandangan mata hanya tertuju padanya.

Novel, terkadang aku malu membawanya pulang ke rumah. Malu kalau kakak – kakakku mengejek dengan pandangan yang menyindir… hiihii.. Cuma perasaanku aja mungkin ya… Jujur saja di keluargaku pada ga suka baca novel. Sukanya nonfiksi semua, terutama bapak. Bapak  yang bacaannya tentang program – program komputer, peternakan, dan pertanian. Mamasku yang sukanya beli koran Otomotif, dan mba yang tak suka beli buku. Sukanya menggambari buku tulisnya dengan cerita putri dan pangerannya. Aku?

Tapi kali ini, karenamu teman….

Aku mulai melirik lagi ke buku dengan genre ini. Mulai membuka mata dan pikiran untuk mencerna kata – katanya. Berhubung dia yang suka beli novel, aku jadi ketagihan minjem. Dan akhirnya aku berusaha buat beli novel satu persatu.

Perkembangan novel Indonesia saat ini mulai marak, dengan cerita – cerita yang bagus pula. Dari novel – novel itu penulis membubuhkan cerita dengan penuh makna dalam kehidupan. Ada kekuatan untuk mempengaruhi pembaca di sana. Ada yang menginspirasi untuk bepergian keliling dunia, bergerak untuk pendidikan, belajar agama, dan tentunya pergaulan dengan pasangan jenis.  Banyak kisah unik yang mereka suguhkan, bukan sekedar roman picisan yang nyangkut di jalanan. Tetapi mereka ramu kata hingga kutersihir untuk bisa melakukan sesuatu yang positif. Mereka tak ubahnya seperti juru dakwah yang sedang berceramah, namun caranya beda. Bukan lewat mulut, namun lewat pena. Dengan pena, kehalusan dan ketegasan bahasa pun cukup memberikan arti yang berbeda. Namun tak berisik, diam, senyap.

Dari novel aku pun bisa belajar membaca kehidupan, bukan hanya kehidupan dalam cerita – cerita yang dituliskan. Namun membaca lingkungan dalam kehidupan nyata. Ada beberapa potongan cerita yang bisa kuambil hikmahnya, jika kutemukan peristiwa kehidupan yang hampir mirip.

Novel memberi kebahagiaan, apalagi jika ceritanya ditulis dari kisah nyata yang inspiratif. Sampai – sampai membuatku berapi -api untuk segera menulis. Menulis apapun. Karena banyak inspirasi yang didapat dari novel itu.  (Kini kutahu, mengapa para penulis profesional selalu menanyakan, berapa banyak buku yang kau baca? Baru kali ini kutahu, membaca adalah sumber energi baru bagi para penulis. Penulis diwajibkan membaca sebanyak – banyaknya. Walaupun bukan tulisan ilmiah, namun tulisan harus penuh dengan ilmu, walaupun hanya sekedar cerita fiksi.) Semangat Menulis!!!

Karena novel, aku jadi mengingatmu teman. Mengingat kebersamaan kita dengan buku – buku di tangan kita. Mengingat perjalanan kita dengan dikejar – kejar waktu hanya untuk mampir ke perpustakaan. Mengingat semua jepretan bersama buku di manapun kita berada. Teruslah bersahabat hingga kita dipisahkan dari ruh dalam tubuh kita. Bukan, hingga perjalanan kehidupan yang sebenarnya mempertemukan kita kelak. Terima kasih teman.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s