Bahagia


Bahagia, satu kata yang bisa diungkapkan ketika berjuta rasa senang, gembira, nyaman, damai, dan perasaan positif lainnya membuncah pada hati kita. Bahagia bisa menjadi kata ampuh bagiku dan bagi teman – teman semua (semoga) untuk memposisikan diri kita pada posisi yang penuh kesyukuran. Kesyukuran pada hal – hal baik ataupun buruk yang menimpa diri kita sendiri.

Setelah berhari – hari kususuri jalan pulang dan jalan berangkat untuk aktivitas mengajar, aku menemukan rasa itu, rasa bahagia yang tak pernah kusangka sebelumnya. Bahagia yang  begitu sederhana , mungkin sebagai ungkapan yang pas kala itu. Sebenarnya mungkin hal ini dialami banyak teman – teman semua, tapi banyak juga yang tak menyadarinya.

Suatu hari, kulewati pagi menyusuri jalan panjang. Entah ada suasana yang berbeda waktu melewati jalanan itu.  Oh, ternyata ada beberapa pelajar bersepeda tertawa riang. Ada raut wajah yang berbinar ketika mereka melihat jalanan menuju sekolah mereka sudah halus. Jalanan yang tadinya kasar dihiasi kerikil – kerikil yang berserakan, aspal yang sudah rusak, dan lubang – lubang yang seperti jebakan itu sudah berganti penampilan. Menjadi mulus, nyaman bersepeda, dan enak dipandang. Siapakah orang yang tak suka dengan perubahan itu?

Mungkin perubahan yang terlalu cepat. Karena ketika mereka pulang hari kemarin, jalanan masih acak – acakan tak beraturan. Apalagi debu – debu yang beterbangan selalu menghinggapi hidung mereka ketika berpapasan dengan truk yang melintas atau mobil masyarakat setempat. Tak ubahnya seperti cerita Roro Jonggrang, yang berubah dalam tempo semalam.

Keriuhan canda tawa mereka menunjukkan kebahagian. Mereka bisa dengan mudah mengendarai sepeda ke sekolah tanpa harus menambah energi pada kayuhan sepedanya. Ah, melihat itu semua menjadi mengenang masa – masa SMP yang harus bersepeda ke jalan besar untuk bisa menaiki bus. Jalanan kala itu masih belum tersentuh bau aspal. Dan seperti biasa, sesuatu yang kutinggalkan tiba – tiba berubah menjadi baik. Ketika aku SMA, jalanan sudah berubah mulus tanpa lubang atau kerikil yang berserakan. Dan hanya tiap Sabtu dan Senin kulewati jalanan itu.

Aku tersenyum dari balik helm dan masker penutup muka. Melihat mereka yang tertawa senang saja bahagia. Apalagi menjadi mereka yang mengayuh tanpa beban untuk mencari ilmu di sekolah. Semoga akan tetap riang hingga mereka menemukan arti perjuangan untuk menuntut ilmu kehidupan. Pikirku, yang selalu mencari pemandangan di sela perjalanan.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s