Aku dan Buku


WP_20150507_001

Buku yang kudengar adalah jendela dunia. Membawaku keluar dari sempitnya ruang dan waktu dalam hidupku. Buku yang awalnya hanya bercerita tentang mata pelajaran di SD kini bertambah luas saja ceritanya. Sampai aku bikin tempat khusus untuk koleksi buku – bukuku.

Dulu sewaktu SD, aku sangat suka membaca. Buku mata pelajaran hampir – hampir lecek gara – gara kupegang, kubaca, dan bolak – balik di buka. Salah satunya buku IPS yang mengupas segala hal tentang Indonesia. Banyak peta dan gambar – gambar sejarah yang termunculkan di buku itu, dibuka berkali – kali untuk benar – benar hapal nama setiap kota yang ada. Karena waktu SD, ulangan IPS dilakukan dengan menggambar peta buta dan anak – anaklah yang menamai setiap titik – titik di peta tersebut.

Yang kupunya waktu itu hanya buku mapel yang berjejer di meja belajar. Buku lain yang tak berhubungan dengan pelajaran di sekolah hanya 1, yakni dongeng tentang Cinderela. Selain itu, aku belum bisa membeli karena keterbatasan ekonomi dan izin beli buku belum kukantongi. Teringat rengekanku pada ibu untuk membelikan buku – buku cerita anak – anak. Namun ibuku selalu bilang supaya beli buku yang berhubungan dengan pelajaran saja. Seiya sekata dalam perasaan yang terpaksa. Aku hanya menurutinya.

Beranjak memasuki usia remaja, aku mulai menyisihkan uang jajanku untuk keperluanku sendiri. Beberapa buku non pelajaran mulai kubeli dari uang tersebut. Walaupun bisa dihitung mungkin setahun hanya satu buku. Tapi mimpiku untuk terus mempunyai buku semakin tinggi. Lambat laun sampai SMA, aku mulai nyicil buku – buku untuk di taruh di tempat khusus di pojok ruangan. Sudah lumayan banyak, mungkin hampir tiap semester ada buku baru yang mejeng di sana.

Kuliah dan sekarang bekerja. Mulai benar – benar menargetkan untuk membeli buku, paling tidak dua bulan sekali. Buku memberikan energi baru padaku. Mencerahkan di setiap kegelisahan yang muncul dalam hidup, mengisi pikiran kosongku, dan memberikan suplai energi yang tak tergantikan. Buku mempunyai dunia sendiri yang tak mampu dijelaskan dengan cerita panjang lebar. Ia memberikan jiwa yang hidup, walaupun ia merupakan benda mati yang seringkali tergeletak lemah di tumpukannya.

Sekarang pojok ruangan itu sudah terisi banyak buku, dari buku SD sampai kuliah, buku religi, buku sains, dan umum. Bertambah pula dengan koleksi majalah Tebar oleh bapak semenjak pensiun ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s