Penolakan Rasa


Rasa itu datang lagi

Campur aduk membuat semua isi perut bergoyang

Tanpa ada aba-aba

Tanpa salam pembuka

Ataupun bisikan yang diselipkan dalam mimpi malam ini.

Hari ini sebenarnya biasa, biasa dengan aktivitasku sebagai mahasiswa.

Lari kesana kemari dengan kuda besi setiap hari.

Rapat ini itu tanpa henti.

Disertai bimbingan skripsi yang kuharap dapat diakhiri.

Entahlah.. Mengapa perasaan ini ada di kala semua tugas tertumpuk di pikiranku.

Ada tugas membantu penelitian dosen, tugas wawancara di desa belakang kampus, rapat organisasi, bimbingan skripsi daaannn..memenuhi beberapa persyaratan beasiswa lanjut.

Oh, kenapa harus datang saat ini? Bisa-bisa semua tugasku tidak terseleseikan hanya karena perasaan yang membuatku mual dan tak nafsu makan.

Selepas dzuhur, aku duduk di gazebo fakultas, membuka laptop dan cuuuzzz… modem siap untuk berselancar di dunia maya.. Mata menari-nari mengikuti pointer yang sedang beraksi, menjelajah ke laman yang sudah kucatat sebelumnya. Memang jam ini kugunakan untuk mencari info tentang penelitian yang sedang kukerjakan bersama dosen. Banyak jurnal luar negeri yang harus diunduh dan dipelajari.

Sembari itu beberapa laman sosmed kubuka, lalu di suatu laman tersebut tiba-tiba nafasku berhenti sejenak, udara yang akan kuserap tertahan sesaat. Jantungku berdegup kencang. Melihat sebuah komentar dari cerita yang ku posting kemarin. Oo.. Dan ternyata yang komentar adalah seseorang yang dulu pernah menasehati saat awal masuk SMA.

Teringat saat itu, awal masuk SMA. Dengan semangatnya aku duduk dan membalas sms yang ia kirimkan padaku. Sebuah nasihat kebaikan, nasihat untuk mengenakan jilbab. Sebuah nasihat yang tak pernah kudapatkan sebelumnya.

Yaa.. Dari situ, rasa simpati mulai tumbuh dari lubuk hatiku, mengingat dan bahkan hafal akan setiap kata-kata dari sms yang ia kirimkan. Aahh.. Bahagia rasanya walau hanya sekedar sms.

Waktu terus berjalan.. Sampai akhirnya aku sekarang kuliah. Dan hanya bisa mendengar atau sekedar membaca kabarnya dari sebuah layar kecil. Menelusuri setiap aktivitas yang ia geluti sekarang dan hanya bisa senyum-senyum sendiri seperti orang yang … (gila kali yaa?). Mungkin hampir 7 tahun ini sudah tidak bertemu lagi dengannya. Tapi semua hal yang ia katakan selalu membekas dalam benakku.

Tiba-tiba aku tersadar, setelah beberapa menit mengingat masa-masa itu, sms dr Ibu dosen masuk. Mengabarkan untuk segera bertemu di kantor beliau.. Oh God! Baru saja mau online mencari jurnal.. Belum dapat gara-gara tadi buka sosmed dan tertahan dengan perasaanku yang campur aduk. Akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri laman sosmed tersebut, dan berusaha fokus terhadap jurnal-jurnal yang akan aku cari. Namun.. yang namanya perempuan.. (Huffhht..) Masih aja susah untuk mengatur perasaanku saat itu.

Tapi..

Bismillah..! dalam gumamku.

Walaupun dengan perut yang tak enak rasanya. Aku berusaha menahan dan meneruskan kerjaanku dan berusaha memenuhi tugas dari dosenku. Sebuah pengalihan yang cukup sakit, tapi harus kulakukan supaya tak terlarut dalam perasaan yang semakin mendalam.

Aku takut.. Perasaan itu terus tumbuh dan tumbuh..
Bukan pantas atau tidak pantas jika perasaan itu ada..
Namun ku tak ingin mengotori hatiku saat ini..
Sakit memang kalau mengingatnya..
Mencabik-cabik hati yang sedang berusaha membuat bentengnya..
Hingga kutakut,
Kala rasa itu datang lagi..
Ingin segera melupakan dan tak ingin bertemu dengan seseorang itu..
Seseorang dengan sebuah nama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s