PHP

Sungguh malang page ini, lama nian aku tak menyapamu. Padahal aku yang bukan siapa – siapa di dunia ini, dengan kerjaan yang bukan sekelas presiden masih juga belum bisa menyempatkan waktu untuk sejenak menilik kembali pikiran yang setidaknya bisa dibagikan di sini.

Semoga Allah mengampuniku atas waktu yang belum bisa dipakai secara optimal. Waktu yang terbuang sia – sia.

Siang ini agak gedek juga si, masalah waktu juga. Ada sebuah perguruan tinggi di yogya yang sepertinya membuka lowongan dosen, hanya saja berita itu tidak tersebar dari laman web tersebut. Malah muncul dan beterbangan di jejaring sosial yang katanya dari dosen yang ada di sana.

Jelas saja, hal ini mendapat perhatian khusus dari para fresh graduate yang ingin segera mengabdikan dirinya. Atau dengan kata lain, ingin mendapatkan pekerjaan. Entah itu berita hoax atau bukan, atau memang disengajakan hanya untuk kalangan internal. Sampai – sampai di laman website yang tertera dalam keterangan lowker tersebut hanya tertulis kata ‘coming soon’. Sungguh bikin sakit ati. Untung bukan saya yang mau daftar.

Hal ini harus menjadi kontrol bagi pihak PT masalah lowongan – lowongan yang benar – benar mereka adakan atau tidak. Karena bukan hanya bikin php para pencari kerja, namun juga akhirnya menimbulkan persepsi negatif terhadap PT yang bersangkutan. Kalau memang belum siap dengan sistem online nya ya ga usah ada lah itu yang namanya surat – surat dengan tertanda pejabat di kampus tersebut, dengan tanggal yang tertera yang ga jauh – jauh amat dari hari ini. Mungkin sekitar pekan kemarin.  Atau jika memang buat internal, ga usah pake surat itu juga. Soalnya jaman sekarang, surat rahasia pun bisa bocor kemana – mana. Langsung aja lewat jalur pribadi. Memang, sistem kayak gini udah ga asing lagi di Indonesia. Ketidakjelasan prosedur dan tingkah laku yang tak pas masih saja tersebar di dalam sistem, apalagi pendidikan.

Dari kejadian ini, bikin kakakku ngabis – ngabisin waktu aja buat memikirkan ini – itu dll. Semoga jadi pelajaran berharga, kalau sesuatu yang belum pasti jangan berharap dan lakukan cek n ricek terhadap informasi yang diterima.

OK. Fine!

Udah sore, nulis ini kejeda tidur.. hehe, see u next yaa

 

 

 

Belajar pada Ibu Zahara

Hello? Untuk bulan ini aku mau sharing hasil silaturahimku bersama teman-teman kemuslimahan Himmpas UGM dengan Bu Zahara. Simak yaa…. ^_^

Bismillah….

Siang menjelang sore, kami berkunjung ke sebuah pesantren, Pesantren Fisika namanya. Kali ini kami memang bertujuan silaturahim dengan Ibu Zahara. Beliau seorang pensiunan dosen Fisika UGM yang sekarang aktif di bidang sosial dan keagamaan. Sekitar 77 tahun yang lalu beliau dilahirkan di Bukittinggi, 20 September 1940, dan akhirnya sekarang menetap di Yogyakarta tepatnya di rumah yang beliau wakafkan untuk pesantren ini. Beliau merupakan istri dari alm. Prof Muslim, dosen Fisika UGM juga.

wp-1493999499690.

Bu Zahara, dengan usia yang tak muda lagi masih semangat untuk menimba ilmu. Pengalaman pribadi Bu Zahara yang selama ini sangat terkenang membuat beliau semakin semangat dalam membaca. Beliau mengaku dulu ketika masih muda merasa lengah terhadap ilmu agama, dikarenakan fokus terhadap ilmu matematika, fisika, bahasa Inggris, dan menambah degree sampai ke USA.

Berawal dari tahun 90-an saat ibu beliau meninggal, seringkali Bu Zahara merasa terngiang-ngiang suara ibunya. Dalam bayangannya ibu beliau berada di rumahnya, sambil membuka buku-buku fisika lalu berkata “Apa ini yang dibaca? Ini gak akan ditanyakan di alam kubur”. Sejak saat itu Bu Zahara berpikiran, “Mungkin ibu saya resah di alam sana melihat saya kurang belajar ilmu agama”. Lalu bu Zahara merasa tak nyaman dan mulai terusik hatinya untuk mencoba belajar ilmu agama secara mendalam, terutama belajar bahasa Arab.

Beliau mencari-cari siapa yang bisa mengajarkan bahasa Arab dan kebetulan ada tetangga yang pandai bahasa Arab, seorang perempuan muda. Awalnya perempuan ini tak mau ketika diminta untuk mengajari bahasa arab. Dengan susah payah beliau membujuk dan akhirnya mau mengajari beliau ketika dia tahu bahwa Bu Zahara benar-benar belum memahami bahasa Arab.

Bu Zahara diberi 6 buku untuk dipelajari dan tentu juga diberi PR pada setiap pertemuannya. Namun belum lama berjalan, perempuan tersebut menikah sehingga pembelajaran terhenti. Setelah itu ada lagi mahasiswa lulusan matematika, yang mengambil course bahasa Arab di ma’had di UMY, yang akhirnya menggantikan perempuan tadi untuk mengajari beliau.

Paras Bu Zahara tampak masih segar dan sehat, wajahnya tampak senantiasa bersinar. Hal ini membuat kami bertanya – tanya, resep apakah yang membuat beliau masih sehat dan segar hingga kini? Beliau menceritakan bahwa tak ada resep khusus. Sekarang ini di umur yang sudah menua, beliau hanya menjaga makan, menjaga wudlu, dan tetap membaca. Mungkin hal – hal tadilah yang membuat beliau senantiasa bersinar baik luar dan dalamnya.

Sekarang beliau dapat mengatakan bahwa manfaat dari perkataan ibunya yang terngiang – ngiang menjadi titik balik untuk semakin mendekat kepada Allah. Saat ini, sedikit demi sedikit suara tersebut semakin menghilang. Ilmu yang beliau pelajari sangat bermanfaat bagi hidupnya hingga sekarang. Beliau mengatakan, “Kapan lagi belajar bahasa Arab kalau tidak sekarang. Maka dari itu, mumpung masih muda, sempatkanlah untuk belajar bahasa Arab di ma’had – ma’had yang ada. Jangan sekedar kuliah ilmu dunia saja, tapi pelajarilah ilmu akhirat. Bisa juga belajar dari buku – buku agama yang sudah tersebar luas, berbeda dengan zaman saya dahulu. Buku – buku agama tidak dijual bebas seperti sekarang. Apalagi yang dapat beasiswa, beli juga buku – buku tersebut, pelajari, dan amalkan. Semua itu akan mempermudah kita ketika memaknai bacaan shalat dan bacaan AlQur’an.”

“Jadi sebagai orang Islam terkadang kita ‘cuek’ terhadap bahasa Arab, padahal dengan belajar bahasa Arab kita bisa memahami bahasa Al Qur’an. Akan sangat banyak pahala yang didapat jika kita mau membacanya. Karena satu huruf dalam Al Qur’an ada pahalanya sendiri – sendiri.”

Beliau lalu menceritakan masa lampaunya, “Zaman dulu, sebelum kemerdekaan banyak anak – anak yang sekolah di pondok pesantren. Lihat saja pahlawan zaman dahulu seperti Hamka dan yang lainnya, produknya jauh berbeda dengan masa setelah zaman saya sampai sekarang. Setelah zaman saya, anak – anak disekolahkan di sekolah umum. Menganggap sekolah umum itu lebih baik dari pada pondok pesantren. Yang lama kelamaan akhirnya imannya kian meluntur. Alhamdulillah sekarang sekolah IT sudah mulai bermunculan, walaupun belum banyak apalagi untuk perguruan tinggi IT juga belum ada. Buku-buku sekarang juga banyak tersedia, maka manfaatkanlah sebisa mungkin.”

“Kita bisa belajar dari banyak buku, dan dianjurkan mempunyai buku – buku pendukung selain Al Qur’an, seperti Hadits, Tafsir Al Qur’an, serta buku – buku keagamaan lainnya. Dengan bekal membaca buku – buku tersebut, ketika datang ke pengajian – pengajian, kalau ada pertanyaan bisa langsung bertanya kepada pembicaranya”, begitulah nasihat – nasihat yang beliau berikan.

Selain bercerita tentang pengalaman beliau, Bu Zahara juga menceritakan tentang Pesantren Fisika. “Sekarang ini ada 7 mahasiswa fisika yang tinggal di sini. Tadinya mereka datang ke sini belum bisa bahasa Arab. Lalu kami datangkan guru bahasa Arab, dari dulunya 11 orang yang mengikuti belajar bahasa Arab sekarang tinggal dua orang. Dan akhirnya dari dua orang tersebut, mereka akhirnya meneruskan belajar bahasa Arab di luar pesantren dan lulus. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya dalam belajar sangat berkaitan pada niat dan motivasi serta manajemen waktu.”

“Program pesantren fisika meliputi belajar fisika dan agama. Ada kegiatan rutin setiap ba’da subuh, dan beberapa waktu untuk belajar fisika. Sekarang ini, sekali sebulan pada hari kamis pekan pertama juga ada perkumpulan anak Minangkabau di Yogya yang mengadakan kajian di sini. Himmpas juga boleh kalau mau mengadakan acara di sini yang penting tak bertumbukan waktunya dengan kegiatan di pesantren”, papar Bu Zahara.

Ada satu pengalaman lagi yang tak terlupakan dari beliau yaitu saat beliau belajar bahasa Arab lalu membaca Al Kafirun. Timbullah pertanyaan mengapa ayat ke-2 dan ke-4 mirip tapi tidak sama sedangkan ayat ke-3 dan ke-5 sama. Hal ini beliau tanyakan pada anak yang pandai bahasa Arab di pesantren. Tenyata hal itu berkaitan dengan kata kerja yang dipakai dalam ayat – ayat tersebut, yang meliputi kata kerja lampau dan kata kerja untuk masa depan. Beliau lalu merasa tersadarkan, ternyata sampai umur sekian malah baru tahu penjelasan seperti itu, dan malah diajari oleh anak umur 25 tahunan. Walaupun begitu, beliau tak merasa malu untuk terus belajar dan bertanya kepada yang lebih muda.

Pesan untuk kami dari beliau, “Kita semua harus berdakwah, untuk memperbaiki diri sendiri dan orang lain. Orang non Islam saja berani mendatangi yang muslim untuk dijadikan pengikutnya. Bagaimana dengan kita, apakah kita berani? Sampaikan walaupun satu ayat, dakwah tidak mesti seperti Aa Gym yang hafal dengan berbagai hadits dan ayat. Tapi dakwah bisa dimulai dari hal – hal yang kecil.”

“Dengan berdakwah kita juga akan bertambah imannya. Jadi semua akan berbalik pada diri kita, salah satu hal misalnya, supaya kita sehat, maka doakan teman kita yang sakit, supaya kita lulus ya kita doakan teman supaya tetap lulus”, tambahan dari beliau.

Terakhir, beliau juga menyampaikan, “Satu hal yang penting, mumpung masih muda manfaatkan waktu untuk membaca dan belajar ilmu agama. Terutama kita mau menjadi ibu. Jadi perempuan juga harus pandai memasak dan menjahit,” sambil memberikan contoh jahitan seperti sarung bantal “ala hotel”, sprei, dan selimut yang beliau jahit sendiri.

Kami diminta juga untuk memahami Q.S. Al Mulk 1-2. Beliau menjelaskan juga tentang pahala itu dihitung di hari kiamat, maka dari itu orang meninggal masih bisa mendapat pahala dari kebaikannya selama di dunia sebelum hari kiamat itu datang. Banyaklah bersyukur, berdoa, supaya jika diberi kesusahan juga bisa bersabar. Di posisi manapun seorang muslim, harus bersyukur karena itu merupakan posisi terbaik yang Allah berikan. Jadwalkan waktu untuk membaca buku 10′ atau 15′ setiap hari,” pesan akhir dari beliau saat itu.

Silaturahim kami akhiri dengan foto bersama dan bersalaman dengan beliau. Beruntung hujan saat itu sudah reda, menambah kebahagiaan kami saat pulang dari pesantren. Sungguh bersyukur rasanya Allah masih memberikan kami kesempatan untuk belajar banyak dari beliau, sosok perempuan yang tak patah semangat dalam mencari ilmu walaupun umur yang sudah tak muda lagi. Semoga beliau termasuk orang – orang yang Allah berikan kebarakahan umur. Aamiin.

wp-1493999682884.

Infus Day

Jumat siang berusaha tegar di perjalanan. Kali ini bukan perjalanan biasa yang membawaku ke suatu tempat dengan gembira. Namun, perjalananku ini menuju ke tempat pemeriksaan darah. Ya, hari ini memang jadwalku untuk cek darah di puskesmas terdekat. Sebelumnya di hari kemarin, aku sudah mendatangi dokter untuk memeriksakan keadaan badanku yang memang sedang tak stabil. Demam panas dari semenjak Selasa mampir agak lama, hingga membentuk kurva sinusoidal naik turun seperti bukit dan lembah saja.

Khawatir demam ini berlanjut, akhirnya menyerah juga dan harus ke dokter.

Jumat ini menjadi hari yang cukup panas bagiku, merasakan panasnya udara Jogja dan panasnya badan yang tak turun – turun. Aku menuju puskesmas diantar adik kos sebelum dia berangkat kuliah. Menunggu sendiri antrian yang begitu panjang. Memang cukup membosankan, apalagi harus menahan lelahnya badan.

Sampai akhirnya nomor antrianku dipanggil, aku masuk ke laboratorium untuk menyerahkan satu tabung kecil sampel darah untuk diperiksa. Ya, akhirnya ini kedua kalinya darahku disedot lagi, yang sebelumnya di tahun kemarin untuk pemeriksaan bebas narkoba.

Selama tes darah berlangsung, aku masih harus bersabar duduk di bangku panjang di lorong puskesmas, menunggu hasil tes dan menanti panggilan untuk masuk ke ruangan dokter. Duduk di bangku yang dilapisi busa tipis berwarna coklat tua, bersenderkan pada tembok yang tegak hanya untuk sekedar memberikan sebagian massa tubuhku supaya ditopang olehnya. Karena tak ada lagi yang bisa kusandari kepala yang semakin memberat ini. Maklum, kali ini benar – benar sendiri, tanpa ada kakak ataupun ibu yang biasa menemani ketika pergi ke dokter.

No tiga puluh tiga, menjadi antrian yang kudapat. Bermenit – menit hingga jam, akhirnya aku sampai juga di ruangan pemeriksaan. Sebelum masuk ke ruangan dokter, seperti hari kemarin aku pun ditimbang dan diukur suhu serta tekanan darahku. Ibu – ibu yang memeriksa berbeda dengan hari kemarin. Ia terlihat cukup berumur dan lebih senior. Setelahnya, aku langsung masuk ke ruangan dokter, dengan dokter yang sama tentunya.

Entah kenapa aku tiba – tiba menumpahkan air mata ketika bertemu dengan beliau. Aku memang sudah tahu hasil yang diberikan petugas laboratorium itu, bahwa trombositku sekarang hanya 56.000 yang seharusnya minimal 150.000. Aku yang sebelumnya mencoba menahan rasa untuk tak menangis, gagal sudah. Sebenarnya bukan karena buruknya kondisi kesehatan saat itu, tapi sedih bagaimana harus berjuang dalam kesendirian. Untuk pertama kalinya harus menginapkan diri di rumah sakit, bukan untuk mendampingi atau menemani keluarga yang sakit, tapi untuk mengantarkan dan menemani diriku sendiri. Sekilas bayangan harus diinfus dan mondok di rumah sakit memang sempat terbayang dalam dua hari sebelum aku pergi ke sana. Bayangan rumah sakit menjadi sering berkelebat dan akhirnya benar terjadi. Suasana ini memang membuat teringat pada almarhumah ibuku. Dulu, ketika harus ke dokter beliaulah yang selalu standby untuk mengantarkan ke dokter dan selalu siap sedia ketika aku sakit di manapun aku berada. Tapi kini hanya kenangan buram, yang menjadi perih dan sedih semata ketika mengingat beliau.

Demam tubuhku semakin menjadi saat tangisku jatuh di depan ibu dokter. Kata – kata lembutnya menenangkanku untuk tidak bersedih. Beberapa penawaran beliau berikan supaya aku bisa memilih rumah sakit rujukan. Dengan pikiran yang sedikit kalut, aku harus memilih dalam waktu yang cepat. Karena kondisi tubuh yang memang harus segera ditangani.

Akhirnya Bethesda menjadi rujukan yang kupilih, sedikit bimbang memang untuk memutuskan di rumah sakit ini. Terkait banyak hal yang berkecamuk, dan akhirnya aku mencoba menghilangkan semua pikiran itu. Yang terpenting adalah letaknya yang terdekat dari posisiku saat ini di puskesmas.

Berbekal dua surat, yang pertama adalah surat rujukan dari dr. Netty, dan yang kedua adalah surat hasil pemeriksaan laboratorium. Kulangkahkan kaki hingga keluar dari puskesmas menuju tempat parkir. Bukan untuk mengambil sepeda motor tapi hanya mengambil titipan helm. Lalu menunggu tukang ojek yang sudah kupesan sebelumnya.

Hanya sekitar 10 menit melintasi jalanan menuju IGD Bethesda. Sampai di sana dengan bawaan jaket, helm, tas gendong seperti anak kuliahan, mendaftarkan diri, mengurus semua persyaratan masuk dan akhirnya berbincang dengan dokter di sana sambil menyerahkan surat dari puskesmas. Penampilanku memang tidak seperti orang yang sakit, karena pucatnya muka tertutup sempurna oleh masker, berjalan sendiri hingga para petugas IGD pun kaget dibuatnya. Sampai akhirnya seorang dokter bilang ke perawat untuk membawaku dengan bed. Dalam hati agak ketawa dan ingin nangis sebenarnya. Dengan monolog aku bilang, “Ini sakit tapi sok strong, bawa surat pengantar sendiri, daftarin sendiri, dan tiba – tiba harus tidur segera di bed yang sekonyong – konyong muncul di depan mata. Dan kedua tanganku masih sibuk dengan tentengan helm, jaket, dan surat – surat. Harus segera tiduran dan dibawa ke ruang IGD bagian perawatan.”

Di ruangan itu aku langsung ditangani oleh dokter dan para perawat. Ditanyai kronologinya kenapa sakit dan cerita lainnya sampai bisa tiba di IGD sendirian. Sepertinya mereka kepo. Hehehe… Ini jadi pengalaman pertama dan semoga terakhir bagiku, ketika harus sampai dirawat di rumah sakit, pertama kalinya diinfus, dan pertama kalinya harus merasakan kesendirian di ruang IGD. Ah…pokoknya ga mau lagi, pikirku.

Dalam menunggu kedatangan kakakku dari Purwokerto, aku masih chat sana – sini seperti biasa dengan teman – teman. Sampai akhirnya aku bilang kalau sedang dirawat di rumah sakit. Beberapa mereka langsung datang ke rumah sakit, menemaniku menunggu. Hingga mbak Ruth datang dan memindahkanku ke ruang rawat inap.

Hari itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Merasakan rasa sakit di tanah Yogya dalam kesendirian. Merasakan begitu kentalnya ukhuwah dan rasa persahabatan yang bisa menjadi pengganti ketiadaan keluarga. Ya, ini hari infus pertamaku, 17 Maret 2017.

 

Sumber pict http//sopkita.blogspot.com

Jatah sakit

Bismillàh

Malam kedua setelah demam dua hari ini. Demamnya seperti grafik sinusoidal. Ga jelas kenapa dan terjadi tiba-tiba kemarin pagi. 

Mungkin memang jatahnya sakit sampe demam. Biasanya sakitnya hanya di hari-hari tertentu dan ga sampe demam. 

Jatah sakit, diberi waktu untuk beristirahat, padahal pekan depan udah UTS. Dan sampai saat ini pun aku belum menyiapkan apa-apa. Harus tetap semangat.

Semoga Allah gugurkan dosa-dosaku… aamiin… 

Jadi teringat mama, dari cara shalatnya, makan dan minumnya, dan bagaimana kesehariannya ketika sakit. Mendampinginya berbulan-bulan menciptakan memory sendiri dalam diriku. Semoga Allah lapangkan kuburnya dan Allah berikan tempat yang baik di akhirat. 

#tulisanyangapalah #entahkenapapengennulis #semogabisanulisbuku

Fokus

Hai… hai… hai… Gak nyangka ternyata di 2017 ini aku baru nulis di sini.  Ceritanya si malem minggu, sayang malem ini malam minggu terakhir di liburan kampus. Hahaha….

OK, hadapi saja senin besok sebagai hari baru yang punya semangat baru! Mmm… kali ini aku bahas apa ya? Tadi si seuprit ada kata – kata yang muncul dari pikiranku. Tentang kefokusan. Iya fokus. Bukan ngitung titik fokus ala – ala anak fisika ya (walaupun aku mahasiswa fisika hehehe).

Fokus yang akan kubahas kali ini yaitu fokus menulis.

Menulis buku untuk para pemula kayak aku – aku ini adalah sesuatu hal yang menurutku beeeraaat banget. Awalnya hoby nulis di blog, lalu ketika mau menulis naskah yang memang niatnya mau dijadiin buku langsung stuck dech. Ide jadi mampet, pikiran mumet, naskah ga jadi – jadi. Apalagi sekarang aku nulis ga pake mentor seperti yang lagi ngetren sekarang ini, menulis dengan bimbingan mentor.

Jadi kembali lagi melihat fokusku kali ini, memang menulis buku merupakan impianku. Namun di kondisi sekarang yang prioritasnya kuliah, menulis buku menjadi urutan yang ke sekian. Kalo kaya gini terus ya kapan ya seleseinya bukuku?

Jika melihat mereka yang sudah sukses nulis buku, dari emak – emak berdaster, mas – mas berdasi, bapak berkacamata, dan embah – embah yang udah beruban, mereka semua sanggup menulis dengan seabreg aktivitasnya. Lha, diriku? kuliah aja ga cumlaude, ngelab beberapa jam aja seminggu, pasti masih ada waktu kosong pula kan untuk sekedar menulis draft naskah? #jadi mikir. Apa iya aku mau menunda lagi untuk menghasilkan karya? beneran gak tuh? mau menunda keberhasilan?

Fokus sekarang ya lakukan semua dengan penuh perhitungan ya. Fokus dengan hal – hal yang jelas – jelas bermanfaat. Bukan hanya menerawang dan membayang layaknya nyari arahnya sinar pantulan. Fokus untuk mencapai keberhasilan, fokus di buku, fokus di studi. Fokus – selesai – beralih ke yang lain – fokus lagi.

Fokus banyak hal atau fokus satu hal?

Ibarat manusia yang punya bermacam kerjaan, ambillah peran seorang ibu, harus ini – itu dalam sekali waktu. Dibutuhkan skill multitasking untuk menyelesaikan semua kerjaannya. Memang bukan hal yang mudah, namun bisa dilakukan.

Sah – sah saja kan jika aku fokus pada banyak hal? dari mulai ngelab, belajar makul, bikin buku, ngerjain artikel, bikin desain, ngisi liqoan, baca buku, jalan – jalan? kadang bisa gila kalau bayangin ini semua. Semua hal pengin dilakukan tapi apa daya waktu jadi keteteran. Tapi semakin terpacu ketika dosen udah bilang supaya kita bisa multitasking. Artinya, otak kita sebenarnya bisa digunakan untuk memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Otot kita mengerjakan banyak gerakan dalam satu waktu, dan niscayalah pasti jiwa dan raga kita bisa diajak kompromi untuk ngerjakan hal – hal tersebut dalam waktu yang bersamaan pula.

Jadi kenapa kita sering mikir ga bisa, itu karena niat yang kurang kokoh, usaha yang kurang sungguh – sungguh dan berbagai alasan logis lainnya. Alhasil penundaan 100% terlaksana. Wow! Emang ya hati yang lemah biki gerah. Kerjaan ga selesai – selesai mimpi jadi bunga tidur semata.

Fokus kita pada banyak hal. Fokus yang tak bisa terbagi – bagi, namun fokus 100% pada tiap hal yang menjadi tujuan kita sebenarnya. Supaya mimpi tak sekedar intuisi, mimpi menjadi realisasi.

Jadi kamu mau menunda lagi untuk menulis buku hingga datang sempatmu?

Januari 2017 tinggal 2 hari, ayo berlari mengejar mimpi!!!

 

Okay, malam ini nulis via hape. Sebelumnya ga ada ide buat nulis apa di sini. Ya berhubung di kos sendirian… Jadi akhirnya pengen coret-coret lagi. 

Mungkin di luar sana orang-orang pada hectic dg yang namanya tahun baru. Atau ada juga yang cuma stay di rumah nonton keriuhan di luar lewat layar kotak. Bahkan ada juga yang ‘ndekem’ aja di kotak biru kecil di lantai dua. Ha-ha-ha…. Mau dibilang jones juga ga ngrasa si. Whatever lah….

Tadi di blognya temen lpdp “gelariksa”, dia udah mbahas yang namanya resolusi tahun baru. Ga usah nulis resolusi di tahun ini. Yang penting nikmati aja, kerjain aja semua, trial and error. Yap, terkadang aku juga gitu. Udah nulis beberapa poin pencapaian di tahun depan terkadang ga kesampaian. Malah jd seakan itu tulisan terpampang dan ga jadi realita. Jadi sebel ujung-ujungnya. 

Tapi di sisi lain, tulisan itu bisa jadi kenangan yang lucu buat aku pribadi. Kadang suka tuh buka-buka catatan pribadi dari tahun-tahun kemarin. Suka geli aja, ternyata di tahun itu aku udah nulisin macem-macem ya… Kadang ngekek sendiri. Sama liat coretan-coretan gambar sendiri ditambah caption pula. Makin tahu kayak apa diriku di tahun-tahun yg lalu. 

Kayak nulis diary atau curhatan di blog kek gini. Mungkin gak ada yang mau baca juga si…kecuali si empunya. Ga tau juga apa temenku yang ngefollow ikutan baca juga apa enggak. (Makasih ya yang mau baca2) 😂. Setidaknya ini caraku dan mungkin juga untuk sebagian teman-teman yang sama kesukaannya nulis diary via blog, bisa bikin seneng aja. Lega rasanya kalau udah nulis. Ga cape – cape juga nyimpen ide berhari-hari. hehe… nulis kaya gini bisa ngubah mood juga, yang tadinya cape sama rutinitas bisa loncat-loncat lagi kayak anak kecil….Haha..

Back to new year 2017. Menurutku tahun baru gak akan punya suasana baru, jika kita ngelakuin beberapa hal yang masih sama salahnya dengan tahun lalu. Ga ada motivasi baru, ga punya ruh yang lebih membara, itu akan bikin tahunmu terasa lebih mati. 

Tahun baru, ulang tahun, seperti kesedihan yang tersembunyikan. Ucapan selamat dan euforia hanya pada pandangan mata semata, lalu pas balik di rumah, menilik ke diri sendiri akan ada banyak kesedihan yang muncul. Gak punya bayangan apa yang akan dilakukan satu jam bahkan sampe satu tahun ke depan. Itu parah. Hanya tahu bahwa detik tadi tak dapat terulang sampai kapanpun. Pukul 23.59 tanggal 31 Desember 2016 tak akan bisa terulang sampai kapanpun. Keadaan tubuh kita di jam itu tak akan sama dengan satu menit kemudian. Gak ada ada kesamaan. Dan semakin banyak waktu yang terbuang dengan kita ikut dalam euforia tahunan yang gak bikin kita sukses di masa depan. 

Bukan aku mengutuk mereka yang sedang ikutan merayakan. Tapi ini opini untuk diriku sendiri. 

Aku yang semakin menua, terkadang merasa di satu waktu punya energi tinggi untuk melakukan ini dan itu. Like today, i wanna be a writer, i wanna be a designer, i wanna be physicist. Oh no… Seakan semua ide keluar, tapi terbenturkan dg kurangnya waktu dalam sehari. Melihat tanggal sangat cepat berganti rasanya belum melakukan apa-apa di tahun ini. Bukan menghilangkan semua pencapaian di 2016, tapi setidaknya masih merasa pencapaian itu masih biasa-biasa saja. Nothing is special. 

Daan… Mungkin ini dirasakan karena kehilangan ruh… Apa-apa menjadi hambar, tak bermakna. Lupa yang namanya cape. Lupa yang namanya menikmati proses. Ruhnya menguap seperti angin. Sudah tak terasa sepoinya. Nauzubillah… Smg Allah masih ngasih kesemangatan untuk bisa menjemput ruh yang akan menghidupkan jiwa kita. Aamiin…

Tahun baru Hijriyah, yang sudah terlewat. 

Tahun baru Masehi, yang sedang berlangsung.

Ulang tahun kelahiran, yang tak ku hiraukan.

Semuanya terlewat saja. Silakan lewat.. aku pun masih biasa

Masih bernama Inung…

Inung tetap Inung…

Yang masih suka nulis-nulis, sibuk ngadepin laptop, pengin loncat-loncat, dan banyak hal lain yang jadi impiannya. 

Perubahan waktu dari detik ke detik hingga berganti dekade, semoga bisa menjadikan diri ini semakin kece, lebih bersih hatinya, lebih cling pemikirannya, dan lebih santun perilakunya.

Bisa semakin banyak bersedekah, menolong dan memotivasi orang lain, semakin ikhlas ibadahnya, semakin rapi dalam semua kerjaannya, semakin mampu mencintai orang-orang di dekatnya, dan mampu mengatur tiap detik sesuai haknya masing-masing. 

Waktu akan semakin berjalan, merangkak sampai batas yang diberikan oleh Sang Pencipta. Sehingga diri harus mampu sampai batas umur di dunia melakukan kebaikan-kebaikan, membentuk pribadi yang bermanfaat, melakukan pencapaian-pencapaian yang membuat pahala bisa mengalir jauh. Sampai akhirnya kembali menyatu bersama tanah untuk berpindah ke alam lain, menghadap ke Rabb Yang Maha Kuasa.
Maha Pencipta waktu, Maha Agung yang menjalankan kehidupan dari masa ke masa. 

Transaksi Non Tunai Saat Berwisata, Kenapa Tidak?

Wisata dan uang adalah dua hal yang saling berkaitan. Apalagi kalau kita hendak berwisata ke kota atau negara yang belum kita jamah, kita wajib tahu bagaimana uang yang kita miliki bisa mencakup kebutuhan di sana, terutama untuk menginap, transportasi, dan makan.

Mungkin teman – teman yang baca ini sudah banyak yang tahu ya tentang bagaimana merencanakan keuangan dalam berwisata, khususnya untuk keuangan non tunai. Bagi yang belum, teman – teman gak usah khawatir bagaimana keuangan saat di sana. Jauh – jauh hari teman – teman bisa merencanakan kebutuhan di sana, bisa dimulai dengan searching hostel murah namun aman dan nyaman untuk dijadikan penginapan, transportasi apa saja yang bisa digunakan sekaligus rincian biayanya, dan juga harga makanan dan minuman yang ada di sana.

Dalam pemesanan hostel ataupun hotel, teman – teman bisa menggunakan transaksi non tunai. Karena pada umumnya di tempat – tempat wisata sudah menerima pembayaran secara online. Teman – teman tinggal menggunakan uang dalam kartu kredit atau debit saja. Yang jelas di sini teman – teman akan dimudahkan dalam masalah pembayaran, selain itu pemilihan kamar yang sesuai dengan kebutuhan teman – teman di sana juga lebih leluasa.

Yang kedua, masalah transportasi. Transportasi dalam kegiatan wisata biasanya menghabiskan anggaran yang cukup besar. Teman – teman bisa mencari tahu apakah pembayaran transportasi dari kota A ke kota B bisa menggunakan uang elektronik, seperti penggunaan Tap-cash card ala – ala mahasiswa, atau harus dengan menggunakan uang tunai. Dari informasi tersebut teman – teman bisa menghitung perkiraan biaya yang dibutuhkan. Bila tap-cash atau kartu – kartu khusus transportasi lainnya bisa digunakan, ini akan mempermudah teman – teman untuk tidak membawa uang tunai terlalu banyak. Sehingga bisa meminimalisir tindak kejahatan di jalan. Dan bikin dompet teman – teman ga terlalu tebal. hehe….

Dan ketiga adalah masalah pesan – memesan makanan. Teman – teman bisa searching harga makanan di sana, setelah mengetahui kisaran harga makanan yang ada, teman – teman tinggal pilih tempat makan mana saja yang akan dikunjungi. Pembayaran juga bisa menggunakan kartu kredit atau debit. Tentu saja kartu yang masih ada saldonya ya…. ^^. Teman – teman bisa juga menggunakan fasilitas delivery order, jika memang malas untuk jalan – jalan keluar. ^^

Nah, ternyata melakukan transaksi non tunai saat berwisata itu mudah bukan? Berwisata jadi lebih aman dan efisien. Wisata yuk teman – teman?? #mupengberat

 

9 Tips Bertransaksi dengan Gadgetmu

Seringkali teman – teman semua merasakan bagaimana ribetnya untuk mengurus ini dan itu saat kondisi harus ‘mager’ di rumah, di kantor, ataupun di kampus. Padahal ada beberapa urusan pembayaran yang harus dilakukan seperti membayar listrik, cicilan kendaraan, pulsa, transfer tunai dan lain sebagainya. Sedangkan keadaan sedang tidak memungkinkan untuk pergi keluar ‘mengeposkan’ sebagian uang kita untuk hal – hal tersebut. Seperti hujan lebat, tak ada kendaraan, atau harus menjaga anak – anak di rumah khususnya bagi ibu – ibu. Pastilah solusinya ada di transaksi non tunai, yang bisa dijalankan dengan gadget yang kita punyai.

Namun kendala selanjutnya adalah ketakutan yang sering membuat kita enggan dalam melakukan transaksi tersebut. Contohnya takut penipuan, salah pencet nomor, harus download aplikasi tertentu dan sebagainya. Pokoknya banyak deh yang bikin ketakutan tersendiri… duh… belum apa – apa sudah pusing duluan. Sayang kan…. Padahal teknologi ini mempermudah, tapi karena soal perasaan jadi malah menghindari teknologi ini.

Nah, di sini saya mau ngasih tips aman, nyaman, dan mudah bagi teman – teman semua. Silakan disimak ya ^_^

  1. Pastikan teman – teman punya yang namanya kartu kredit ataupun debit ya, tentunya yang ada saldonya. cmiiwww….
  2. Cari tahu aplikasi yang bisa digunakan untuk transaksi non tunai sesuai penyedia jasa kartu kredit atau debit teman – teman. Kalau bingung hubungi kantor cabang terdekatnya. Cari tau bagaimana cara penggunaan, peraturan, biaya yang dibebankan dan lain sebagainya.
  3. Nah, pasang aplikasi tersebut dalam gadget yang mendukung. Pastikan username, password dan PIN hanya kamu yang tahu. OK?!
  4. Buka aplikasi tersebut hanya di gadgetmu saja, jangan buka aplikasi dari gadget milik orang lain.
  5. Bila dibuka dengan menggunakan laptop atau komputer, jangan lupa untuk tidak mencentang bagian “Simpan Sandi”. Walaupun di laptop atau komputer milik sendiri ya.
  6. Pakailah aplikasi tersebut dengan seksama, misalkan dengan mengulangi pembacaan no. rekening yang mau dituju.
  7. Memastikan ada bukti pengiriman uang non tunai dan menyimpan bukti tersebut dalam folder khusus. Kalau teman – teman memakai hp, teman – teman bisa sekedar screenshoot laman tersebut.
  8. Setelah transaksi selesai teman – teman bisa logout. Benar – benar logout ya.
  9. Sebelum memulai dan mengakhiri transaksi bacalah doa terlebih dahulu, dan lakukan dengan kondisi tenang serta tidak terburu – buru.

Yaps, itu tips dari saya sore ini. Semoga teman – teman bisa merasakan kemudahan bertransaksi dengan menggunakan uang non tunai.

Yuk galakkan Gerakan Nasional Non Tunai bersama orang – orang di sekitarmu! Semangat!

 

Belanja Semudah Membalikkan Tangan

Pagi semua sahabatku? Semoga harimu selalu membahagiakan. Aamiin. Seperti bahagianya seseorang yang mampu mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini.

Apakah Kamu sudah merasakan kebahagiaan ketika mendapatkan sesuatu? Ya mungkin salah satunya adalah mendapatkan barang – barang yang Kamu butuhkan dengan cara yang mudah layaknya seseorang membalikkan kedua tangannya. Hanya perlu ‘effort’ kecil untuk memperolehnya.

Salah satu caranya adalah dengan melakukan belanja online, menggunakan payment dengan uang elektronik, tinggal klik lalu beres. Atau bisa juga dengan sekali gesekan semua akan selesai. Mudah bukan?

Sekarang ini dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat, penggunaan uang secara elektronik bisa diibaratkan seperti sel – sel saraf pada otak yang saling berkaitan. Mungkin kalau bisa dibuat non virtual, di udara akan banyak sekali kabel yang menghubungkan antara pengirim dan penerima uang. Bahkan bisa jadi langit akan terhalang dengan banyaknya kabel tersebut. Untungnya, pengiriman dan penerimaan uang sekarang berupa aktivitas virtual, yang tak membutuhkan kabel panjang untuk saling menghubungkan. Bisa dibayangkan betapa repotnya kalau kabel panjang itu benar – benar ada. Bukan main payahnya.

Ditambah beberapa fasilitas online yang memudahkan pihak pembeli memilih barang secara mudah di web – web tertentu. Sehingga pemesanan bisa dilakukan di dalam kamar tanpa komunikasi face to face untuk bisa mendapatkan barang – barang kebutuhannya. Tidak hanya belanja online saja, namun transaksi non tunai bisa dilakukan di toko – toko yang menggunakan fasilitas EDC (Electronic Data Capture). Kamu tinggal gesekkan kartu debit atau kreditmu di sana, secara langsung akan bisa membayar belanjaanmu.

Teknologi ini benar – benar memudahkan umat manusia dalam kehidupannya. Namun seiring dengan itu, Kamu juga harus tetap menjaga diri untuk tidak asal bayar/ asal gesek kartu debit/kredit. Karena di mana ada teknologi baru pasti di sana juga ada celah kejahatan yang dimanfaatkan oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab. Tetap waspada.

Kalau berbicara masalah belanja dan uang, Kamu pun harus bisa mengontrol diri. Belanja boleh, namun harus bijaksana.  Apalagi kalau sudah tergiur dengan barang – barang yang diinginkan, sekali lagi harus diingat yaa, prioritaskan mana yang diinginkan dan mana yang dibutuhkan. Ok?! Semoga belanjamu menyenangkan ^_^

 

 

Up ↑

%d bloggers like this: